Skip to main content
Semua artikel

Kaki Sering Kesemutan? Ini Penyebab dan Cara Menghilangkannya

Zuohaoshi Official 7 menit baca
Kaki Sering Kesemutan? Ini Penyebab dan Cara Menghilangkannya

Kaki sering kesemutan bisa jadi hal sepele kalau munculnya hanya sesekali setelah duduk bersila. Lain ceritanya kalau kesemutan datang berulang, muncul tanpa sebab, atau tidak kunjung hilang. Kekhawatiran ini cukup beralasan. Berdasarkan factsheet hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 dari Kementerian Kesehatan, prevalensi diabetes pada penduduk usia 15 tahun ke atas mencapai 11,7 persen menurut hasil pemeriksaan kadar gula darah, naik dari 10,9 persen pada Riskesdas 2018. Diabetes inilah yang paling sering dikaitkan dengan kesemutan di kaki, karena Kemenkes menyebut kesemutan di kaki sebagai salah satu gejala neuropati diabetik yang paling sering muncul.

Artikel ini membahas apa saja penyebab kaki sering kesemutan, cara menghilangkannya di rumah, dan tanda kapan Anda perlu segera ke dokter.

Kesemutan Sesekali dan Kesemutan yang Sering, Apa Bedanya?

Penyebab kesemutan yang paling sederhana adalah saraf yang tertekan karena posisi tubuh, misalnya duduk bersila atau tidur dengan kaki tertindih. Kemenkes menyebut kesemutan yang muncul sesekali seperti ini umumnya tidak berbahaya dan bisa hilang dengan sendirinya setelah Anda mengubah posisi atau menggerakkan kaki.

Kesemutan perlu diperhatikan lebih serius bila muncul terus-menerus dan berulang, bahkan saat tidak ada pemicunya. Kemenkes menyebut pola seperti ini bisa menandakan penyakit yang mendasarinya, sehingga penyebabnya perlu dicari, bukan hanya gejalanya yang diredakan.

Penyebab Kaki Sering Kesemutan

Berikut penyebab yang paling sering dikaitkan dengan kaki kesemutan, dari yang ringan sampai yang perlu pemeriksaan.

  1. Terlalu lama di satu posisi. Duduk bersila atau bertahan di satu posisi terlalu lama membuat saraf tertekan. Kesemutan biasanya reda setelah posisi diubah.
  2. Sepatu terlalu sempit. Menurut Kemenkes, sepatu yang terlalu sempit bisa mengganggu aliran darah di kaki dan memicu kesemutan, termasuk tali sepatu yang diikat terlalu kencang.
  3. Diabetes. Alodokter menyebut diabetes sebagai penyebab paling umum gangguan saraf tepi dengan gejala kaki kesemutan. Keluhannya sering terasa di kedua kaki, terutama di telapak dan jari kaki, dan bisa disertai rasa nyeri atau panas terbakar.
  4. Kekurangan vitamin B12. Menurut Kemenkes, kekurangan vitamin ini membuat tubuh lebih rentan mengalami neuropati perifer. Alodokter juga mencatat kekurangan vitamin B1, B3, B6, atau E bisa berpengaruh, begitu pula vitamin B6 yang dikonsumsi berlebihan.
  5. Saraf terjepit di tulang belakang. Saraf yang tertekan di tulang belakang bagian bawah bisa membuat nyeri, kesemutan, atau kebas menjalar ke tungkai. Cara membedakannya dari pegal biasa sudah kami bahas di artikel terpisah, jadi tidak diulang di sini.
  6. Konsumsi alkohol berlebihan dan efek samping obat. Alkohol dalam jumlah banyak bisa merusak saraf tepi dan memicu kekurangan vitamin B1. Beberapa obat, seperti obat TBC isoniazid, obat HIV, dan obat kemoterapi, juga bisa memicu kesemutan.]
  7. Penyakit lain di tubuh. Hipotiroidisme, penyakit ginjal, penyakit hati, dan sindrom Guillain-Barré termasuk kondisi yang bisa menimbulkan kaki kesemutan.

Baca Juga : Pegal Linu Biasa atau Saraf Kejepit? Cara Membedakannya Sendiri dan Tanda Kapan Harus ke Dokter

Dua Penyebab yang Sering Terlewat

Di luar daftar di atas, ada dua kondisi yang keluhannya terasa di kaki dan sering disangka kesemutan biasa.

Sindrom Terowongan Tarsal

Kondisi ini terjadi ketika saraf tibialis posterior tertekan di terowongan sempit di belakang dan bawah tonjolan mata kaki bagian dalam. Menurut penjelasan dr. Raditya Ramadan, SpOT, di laman Kemenkes, nyeri dan kebasnya menjalar ke lengkung dan telapak kaki. Keluhan biasanya memburuk di malam hari, saat berjalan atau berdiri lama, dan membaik setelah istirahat. Sepatu yang tidak pas, riwayat keseleo, dan diabetes termasuk pemicunya.

Aliran Darah Tungkai yang Tersumbat

Penyempitan pembuluh arteri di tungkai dikenal sebagai penyakit arteri perifer. Menurut penjelasan dr. Chrisna Agustyani Haryanto dari RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita di laman Kemenkes, gejalanya bisa berupa jari kaki terasa dingin atau mati rasa, nyeri atau kram saat berjalan yang mereda setelah istirahat, dan luka di kaki yang sulit sembuh. Merokok, hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, dan usia di atas 60 tahun meningkatkan risikonya. Sekitar 4 dari 10 penderitanya bahkan tidak merasakan gejala.

Kesemutan di Satu Kaki atau Kedua Kaki?

Letak kesemutan bisa memberi petunjuk awal, walau tetap bukan pengganti pemeriksaan dokter.

Kesemutan di kedua kaki yang terasa mirip di kiri dan kanan mengarah ke polineuropati, yaitu gangguan pada banyak saraf tepi sekaligus. Bahan ajar neuropati Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin menjelaskan gangguannya bersifat simetris dan tungkai biasanya terkena lebih dahulu. Menurut MSD Manual, bentuk kronisnya berkembang bertahap selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun, dan penyebab paling umumnya adalah gula darah yang tidak terkontrol.

Kesemutan yang hanya terasa di satu kaki lebih sering berkaitan dengan gangguan di satu saraf, misalnya karena tertekan, sehingga gejalanya tidak simetris. Kalau rasanya menjalar dari pinggang ke tungkai, saraf terjepit di tulang belakang patut dicurigai. Kalau terpusat di telapak kaki dan memburuk saat berjalan atau di malam hari, sindrom terowongan tarsal bisa menjadi penyebabnya.

Satu pengecualian penting adalah kesemutan atau kebas di satu sisi tubuh yang muncul mendadak. Kondisi ini dibahas di bagian tanda bahaya di bawah, karena bisa menjadi gejala stroke.

Cara Menghilangkan Kesemutan di Kaki

Untuk kesemutan ringan yang jelas pemicunya, langkah berikut bisa dicoba di rumah. Semuanya merujuk pada anjuran Kemenkes.

  1. Ubah posisi dan gerakkan kaki. Luruskan kaki, putar pergelangan, dan gerakkan jari kaki agar aliran darah kembali lancar.
  2. Pijat perlahan. Pijat area yang kesemutan dengan lembut sampai rasanya mereda.<br>Ganti alas kaki. Pilih sepatu yang sesuai ukuran kaki dan jangan mengikat tali terlalu kencang.
  3. Rendam kaki dengan air hangat. Pastikan airnya tidak terlalu panas agar kaki tidak terluka. Bagi penderita diabetes, dr. Ida Bagus Aditya Nugraha, SpPD, di laman Kemenkes menganjurkan mengecek suhu air dengan siku, bukan dengan kaki, karena kaki bisa kehilangan sensasi.
  4. Periksa kaki setiap malam bila Anda penderita diabetes. Sumber yang sama menyarankan memeriksa kemerahan atau perubahan warna, bengkak, serta lecet, goresan, atau lepuhan sebelum tidur. Pantau juga gula darah secara rutin.
  5. Kurangi rokok dan alkohol, lalu rutin bergerak. Kemenkes menyebut berhenti merokok, membatasi alkohol, olahraga teratur, istirahat cukup, dan mengelola stres sebagai langkah pencegahan.

Suplemen vitamin B12 dan obat antiradang yang dijual bebas juga disebut Kemenkes sebagai pilihan. Konsultasikan dulu ke dokter atau apoteker soal dosisnya, terutama bila Anda rutin minum obat lain.

Baca Juga : Tangan Sering Kesemutan? 10 Penyebab dan Kapan ke Dokter

Kapan Kaki Kesemutan Perlu Diperiksakan ke Dokter?

Segera periksakan diri bila kesemutan yang Anda alami masuk ke salah satu kondisi berikut.

  1. Muncul berulang atau berlangsung lama tanpa pemicu yang jelas.
  2. Makin parah atau tidak membaik walau Anda sudah mengubah posisi, mengganti alas kaki, dan beristirahat.
  3. Disertai lemas atau nyeri sampai sulit berjalan, atau kaki mati rasa sampai membuat Anda mudah jatuh, seperti diingatkan Alodokter.
  4. Disertai luka di kaki yang sulit sembuh, terutama pada penderita diabetes.

Pergi ke IGD tanpa menunggu bila kesemutan atau kebas muncul tiba-tiba di satu sisi tubuh, disertai wajah mencong, bicara pelo, atau lengan dan tungkai melemah. Kemenkes mengingatkan gejala seperti ini sebagai tanda stroke lewat kampanye SeGeRa Ke RS.

Kalau bingung harus ke mana, mulai dari puskesmas, klinik, atau dokter umum. Dokter akan menanyakan riwayat keluhan, lalu menentukan apakah perlu cek gula darah, pemeriksaan saraf, atau rujukan ke dokter spesialis.

Bagaimana dengan Jamu?

Zuo Hao Shi terdaftar di BPOM sebagai jamu yang membantu meredakan pegal linu dan nyeri pada persendian. Produk ini tidak diperuntukkan untuk mengatasi kesemutan, kebas, neuropati diabetik, maupun saraf terjepit. 

Jamu bisa menjadi pilihan bila kesemutan sesekali datang bersama pegal otot setelah aktivitas berat, misalnya setelah seharian berdiri atau berjalan jauh. Bila Anda penderita diabetes, sedang hamil atau menyusui, atau rutin minum obat dari dokter, tanyakan dulu ke dokter atau apoteker sebelum mengonsumsi jamu apa pun.

Baca Juga : Zuo Hao Shi Apakah Aman? Ini yang Perlu Anda Tahu

Kalau Anda Masih Ragu

Cara paling sederhana sebelum ke dokter adalah mencatat polanya. Tulis kapan kesemutan muncul, berapa lama, di satu atau kedua kaki, dan apa yang Anda lakukan saat itu. Catatan sederhana ini membantu dokter menemukan penyebabnya lebih cepat.

Kesemutan karena posisi duduk akan hilang dengan sendirinya. Kesemutan yang terus kembali adalah sinyal dari tubuh yang sebaiknya didengarkan, bukan dibiasakan.

Untuk pegal linu dan nyeri sendi yang menyertai aktivitas sehari-hari, lihat pilihan paket Zuo Hao Shi di halaman Paket & Harga. Zuo Hao Shi bukan obat penyembuh dan bukan pengganti pemeriksaan dokter.

Artikel lainnya